“Do you study for credits or do you study for life?”

Leave a comment

by: Nico

“You can teach students a lesson for a day, but if you can teach them to learn by creating curiosity, they will continue the learning process as long as they live”

Clay P Bedford

 

Everyone in this world has needs that they have to fulfill. According to Abraham Maslow’s Hierarchy of Needs, human needs were divided into two big groups, the deficiency needs and growth needs. The deficiency needs energize people to meet the needs; survival, safety, belongingness, and self esteem. The growth needs itself is needs in intellectual achievement and aesthetic appreciation that increase as people have experiences with them. Based on Maslow, people won’t move to the growth needs unless they fulfilled all their deficiency needs.

Applications of Maslow’s works into education perspective also seem to support its validity. Students’ motivation of learning is influenced by their needs. It is make sense that, students will not learn well if they are hungry or they will also less motivate if they are not feeling safe.

Now, let’s assume that all the deficiency needs are fulfilled, and then what motivates you to study? “Do you study for credits or do you study for life?” Of course, there is no right or wrong answer for this question. Both of them were directly driven by the needs, needs of fulfilling the requirement for graduation and needs of satisfying the curiosity about something. Since the nature of the growth needs is it will never be completely satisfied, it will be better if we could make our students study for life. Here are the challenges for the teacher, raising their intrinsic motivation so that they will continue the learning process as long as they live.
It is sound very interesting and also challenging, creating curiosity and raising intrinsic motivation to make our students become a long life learners.

The Examined, Happy life!

Leave a comment

You have brains in your head
you have feet in your shoes
you can steer your self
any direction you choose.
you are on your own. And you know what you know.
And YOU are the guy who will decide where to go..

(Dr. Seuss, Oh, the places you will go!)

Ekonomi Kerakyatan, Masih Relevankah

Leave a comment

 

Ekonomi kerakyatan merupakan terminologi yang dilahirkan pasca kolonialisme hindia belanda oleh Muhammad Hatta. Dalam merumuskan model perekonomian Indonesia, Bung Hatta memperhatikan kondisi sosial ekonomi peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang pada saat itu menempatkan kaum pribumi dalam kelas strata sosial paling bawah. Ekonomi kerakyatan diciptakan sebagai cara untuk menjadikan bangsa pribumi sebagai tuan di negeri sendiri. Konsep ekonomi kerakyatan kemudian diejawantahkan dalam konstitusi Republik Indonesia Pasal 33 UUD 1945. Dalam pasal tersebut menjelaskan secara terperinci mengenai (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yan gpenting bagi negara dan yan gmenguasai hajt hidup orang banyak (harus) dikuasai oleh negara. (3) Bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Lebih dari itu, negara memiliki peran yang sangat besar dalam sistem ekonomi kerakyatan. Sebagaimana dilengkapi oleh Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 34,  peran negara dalam sistem ekonomi kerakyatan antara lain meliputi lima hal sebagai berikut: (1) mengembangkan koperasi (2) mengembangkan BUMN; (3) memastikan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; (4) memenuhi hak setiap warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak; (5) memelihara fakir miskin dan anak terlantar.

Walaupun telah tercantum dalam amanat konstitusi Republik Indonesia, sistem ekonomi kerakyatan belum benar-benar terlaksana. Sistem ekonomi kerakyatan hanya benar-benar terlaksana pada periode 1956-1964 dengan dilakukannya nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Sistem perekonomian Indonesia saat ini cenderung menggunakan sistem perekonomian kapitalisme dengan corak tata ekonomi etatisme atau sosialis komunis dan sistem ekonomi kapitalisme liberal. Hal ini dapat dibuktikan dengan penjualan aset negara atau privatisasi BUMN.

Dengan demikian apakah wacana Ekonomi Kerakyatan saat ini masih relevan?

Belajar Dari Film – Cin(t)a

1 Comment

oleh: nico


Cin(t)a, sebuah film yang bercerita tentang perbedaan dan cinta. Film ini berkisah tentang Cina, seorang pemuda Kristen keturunan Cina-Batak dan Annisa sseorang gadis muslim keturunan Jawa. Selain perbedaan agama dan suku, mereka juga berbeda dalam hal usia dan keadaan finansial.

Berawal dari pertemuan yang tak menyenangkan ketika Cina mengeluarkan teori tentang Annisa mengenai kecantikan yang  berbanding terbalik dengan kepandaian, juga tebakan cina bahwa IPK Annisa paling-paling cuma 2.1. Walau ternyata tebakan cina benar, mereka menjadi sahabat ketika secara tidak sengaja Cina merusak maket Annisa dan memperbaikinya secara diam-diam. Keduanya bersahabat tanpa memikirkan semua perbedaan yang ada pada diri mereka, bahkan mereka bertoleransi satu sama lain ketika Idul Fitri dan natal menjelang bersamaan.

Secara keseluruhan menurut saya film ini cukup bagus, walaupun ending dari film ini menggantung. Perbedaan agama seringkali menjadi penyulut konflik. Baik konflik dengan skala mini maupun skala besar seperti perang antar agama. Namun, perang tersebut tidak perlu terjadi jika perbedaan dapat diterima sebagai sebuah keragaman dalam hidup. Film ini menawarkan cinta sebagai solusi dari perbedaan-perbedaan yang ada. Hal ini terlihat ketika sang sutradara sesekali menyisipkan testimony dari pasangan beda agama yang bisa hidup akur atas nama cinta.

Pertanyaan yang dilempar oleh sutradara tentang, “Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda jika Ia hanya ingin disembah dengan satu cara?” Membuat film ini semakin menangguhkan cinta sebagai solusi karena dengan cinta, yang berbeda bisa menjadi satu.

Pelajaran yang dapat dipetik dari film ini adalah, Tuhan menciptakan kehidupan dengan berbagai macam perbedaan dan juga persamaan sebagai “bumbu” dalam kehidupan tersebut. Jika dalam sebuah perbedaan ada yang merasa lebih baik atau superior dari yang lain, itulah awal mula dari sebuah pertikaian. Namun, jika perbedaan dapat disikapi secara baik dengan cinta dan toleransi, hidup ini akan lebih indah untuk dijalani.

Wallahu a’lam.

Catatan Kecil Relawan Merapi

3 Comments

oleh: nico

Rabu, (22/12/2010) tepat pukul 3.15 pagi kami tiba di terminal Jombor Daerah Istimewa Jogjakarta. Saat itu, kami dijemput oleh relawan Sampoerna Foundation Scholars Club (SFSC) Jogjakarta menggunakan kendaraan operasional yang berada disana. Ketika kami tiba di Posko Sariharjo, kami disambut oleh suara khas sang dalang yang tengah memandu petunjukan Wayang Kulit. Ya, sebuah pertunujukan semalam suntuk untuk menghibur para pengungsi merapi.

Para pengungsi ini berasal dari Kali Adem, sebuah dusun paling utara Desa kepuharjo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman. Kali Adem hanya berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi. Saat letusan pertama tanggal 26 Oktober 2010, Merapi telah menghancurkan dusun yang dihuni oleh 469 jiwa ini. Tak ada lagi yang tersisa untuk mereka, rumah, sapi dan semua yang mereka miliki habis diterjang awan panas. Semenjak itu, warga Kali Adem telah berpindah empat kali tempat pengungsian hingga akhirnya menetap di Balai Desa Sariharjo hingga saat ini.

Setelah lebih dari sebulan, warga Kali Adem telah terbiasa dengan suasana pengungsian. Setiap pagi mereka bangun tanpa dikomando untuk melakukan sholat shubuh di musholla balai desa. Setelah itu, beberapa warga ada yang menyiapkan sarapan pagi di dapur umum dan sebagian yang lain melakukan bersih-bersih lingkungan. Usai sarapan pagi, anak-anak usia sekolah mulai berangkat ke sekolah-sekolah sementara yang berada di dekat dengan pengungsian. Karena sapi perah milik warga telah hilang di telan awan panas, para bapak, mengikuti program pemerintah (Padat Karya) untuk mengisi hari-hari selama mereka mengungsi. Selain itu, SFSC Jogja juga menyelenggarakan kegiatan dan memfasilitasi organisasi lain yang ingin menyelenggarakan kegiatan untuk mengisi hari-hari para pengungsi, seperti Pengajian tiap malam jum’at, TPA untuk anak-anak, kegiatan seni Ebeg, Pemeriksaan kesehatan oleh Posyandu, Olahraga dan Senam Pagi bersama warga, dll. Hal ini ditujukan agar kondisi fisik dan mental warga pasca bencana tetap terjaga sehat wal’afiat.

Kedatangan kami ke Jogja, tentu bukanlah untuk rekreasi atau hanya sekedar senang-senang apa lagi menyusahkan. Selain menyampaikan bantuan yang telah terkumpul, kami pun turut melakukan kerja sosial seperti bersih-bersih lingkungan, pendistribusian bantuan sampai pembuatan Pos Bermain dan Belajar untuk anak-anak pengungsi. Sedangkan bantuan yang disampaikan dalam bentuk uang, panitia local (SFSC Jogja) akan menggunakannya untuk keperluan sehari-hari pengungsi. Selain itu, uang yang diterima akan dibelikan bingkisan untuk anak-anak pengungsi yang akan mengikuti sunatan massal tanggal 2 Januari 2011.

My learning model in a picture.

5 Comments

by: nico

Once in PETA class my lecture asked me and the entire of the class to draw a picture about the way we learn. I drew a picture that I think is the closest picture which is represent my way of learning.

This is my picture. This picture means that I learn from what I see and then I try to make the connection from my prior knowledge, common sense and my new information. Sometimes I also learn from my intuition, because I think I have sharp feeling (read: sensitive). In my picture above learning process is happen anywhere, means that learning is not only happened in classroom, but also outside the classroom.

My picture also showed the way I got the knowledge. I got it mostly from books, parents, friends, also from the environment. Even this model of learning is a Construction Model, which sees learning as Individual sense making. It does not mean that I do not need help from others. Because of this learning model concerned on construction of meaning through discussion, discovery, open-ended learning, and making connection.

The important thing of my learning model is the process. The process I get the information, the process of interpret my thought and than the process of making the conclusion.

Therefore, When you do your learning process. Just enjoy it and open to all possibilities, and then you will get more than what you expected.

:D

I Feel it LIVE! The Next Level

2 Comments

by : nico


In the second week of my teaching experience program, I was no longer doing a classroom observation. It was the time to extract the information from last week observation into Lesson Plan. Developing a lesson plan is not as easy as I think before. There is so many think that I have to consider. My main purpose when develop a lesson plan is to make students engage into learning process. Besides that, I have to make the learning process not only fun but also meaningful.

Thursday, November 11 was the Show Time. Indah and I taught two of three-science class. We taught them by using lesson plan that we have been develop before. The first class that I taught is XI Science 2. This class ran well as we expected before. They said that they were happy with our teaching method. The second class was XI Science 1. This class was bit different from the first one, because this class was held on the last session. So the condition of the students, physical and psychologically were on the lowest state of it. Furthermore, ten of thirty-five students were going out of class to follow training at another school. Whew, I think it cannot be worst.

When I taught them, I use three-phase technique. The first phase was a review game to break the ice and recall what they have learned in previous meeting. When I built this game, I used a collaborative instruction to make they work as a team to won this group game competition. They like doing this activity so much, because I provided a little prize for the winner. This condition showed me, that to make them interest with the learning process we have to provide an activity that they like to do besides give them an extrinsic motivation like a reward for the winner.

The second phase was the “main course” of this learning process. I used direct instruction to deliver new material instead of review some material to them. Even I had used technology such power point, whereas this approach was something different from they used to. I still cannot generate questions from them. Even more, some students in XI Science 1 were yawning while I was doing a presentation. It was really made me hurt. But at that time, I took an improvisation. In the middle of my presentation I asked the students to played clap game and it worked out! They got their concentration back.

The third phase or the last phase of this learning process is the closure. I used collaborative instruction to check their understanding about the lesson. Most of them were excited with this part, because I allowed them to worked on their own but still under my control.

Overall, this first time teaching experience gave me so much knowledge about this profession because I feel it LIVE and there is nothing can be compared with.  :)

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: