oleh: nico

Rabu, (22/12/2010) tepat pukul 3.15 pagi kami tiba di terminal Jombor Daerah Istimewa Jogjakarta. Saat itu, kami dijemput oleh relawan Sampoerna Foundation Scholars Club (SFSC) Jogjakarta menggunakan kendaraan operasional yang berada disana. Ketika kami tiba di Posko Sariharjo, kami disambut oleh suara khas sang dalang yang tengah memandu petunjukan Wayang Kulit. Ya, sebuah pertunujukan semalam suntuk untuk menghibur para pengungsi merapi.

Para pengungsi ini berasal dari Kali Adem, sebuah dusun paling utara Desa kepuharjo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman. Kali Adem hanya berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi. Saat letusan pertama tanggal 26 Oktober 2010, Merapi telah menghancurkan dusun yang dihuni oleh 469 jiwa ini. Tak ada lagi yang tersisa untuk mereka, rumah, sapi dan semua yang mereka miliki habis diterjang awan panas. Semenjak itu, warga Kali Adem telah berpindah empat kali tempat pengungsian hingga akhirnya menetap di Balai Desa Sariharjo hingga saat ini.

Setelah lebih dari sebulan, warga Kali Adem telah terbiasa dengan suasana pengungsian. Setiap pagi mereka bangun tanpa dikomando untuk melakukan sholat shubuh di musholla balai desa. Setelah itu, beberapa warga ada yang menyiapkan sarapan pagi di dapur umum dan sebagian yang lain melakukan bersih-bersih lingkungan. Usai sarapan pagi, anak-anak usia sekolah mulai berangkat ke sekolah-sekolah sementara yang berada di dekat dengan pengungsian. Karena sapi perah milik warga telah hilang di telan awan panas, para bapak, mengikuti program pemerintah (Padat Karya) untuk mengisi hari-hari selama mereka mengungsi. Selain itu, SFSC Jogja juga menyelenggarakan kegiatan dan memfasilitasi organisasi lain yang ingin menyelenggarakan kegiatan untuk mengisi hari-hari para pengungsi, seperti Pengajian tiap malam jum’at, TPA untuk anak-anak, kegiatan seni Ebeg, Pemeriksaan kesehatan oleh Posyandu, Olahraga dan Senam Pagi bersama warga, dll. Hal ini ditujukan agar kondisi fisik dan mental warga pasca bencana tetap terjaga sehat wal’afiat.

Kedatangan kami ke Jogja, tentu bukanlah untuk rekreasi atau hanya sekedar senang-senang apa lagi menyusahkan. Selain menyampaikan bantuan yang telah terkumpul, kami pun turut melakukan kerja sosial seperti bersih-bersih lingkungan, pendistribusian bantuan sampai pembuatan Pos Bermain dan Belajar untuk anak-anak pengungsi. Sedangkan bantuan yang disampaikan dalam bentuk uang, panitia local (SFSC Jogja) akan menggunakannya untuk keperluan sehari-hari pengungsi. Selain itu, uang yang diterima akan dibelikan bingkisan untuk anak-anak pengungsi yang akan mengikuti sunatan massal tanggal 2 Januari 2011.