oleh: nico


Cin(t)a, sebuah film yang bercerita tentang perbedaan dan cinta. Film ini berkisah tentang Cina, seorang pemuda Kristen keturunan Cina-Batak dan Annisa sseorang gadis muslim keturunan Jawa. Selain perbedaan agama dan suku, mereka juga berbeda dalam hal usia dan keadaan finansial.

Berawal dari pertemuan yang tak menyenangkan ketika Cina mengeluarkan teori tentang Annisa mengenai kecantikan yang  berbanding terbalik dengan kepandaian, juga tebakan cina bahwa IPK Annisa paling-paling cuma 2.1. Walau ternyata tebakan cina benar, mereka menjadi sahabat ketika secara tidak sengaja Cina merusak maket Annisa dan memperbaikinya secara diam-diam. Keduanya bersahabat tanpa memikirkan semua perbedaan yang ada pada diri mereka, bahkan mereka bertoleransi satu sama lain ketika Idul Fitri dan natal menjelang bersamaan.

Secara keseluruhan menurut saya film ini cukup bagus, walaupun ending dari film ini menggantung. Perbedaan agama seringkali menjadi penyulut konflik. Baik konflik dengan skala mini maupun skala besar seperti perang antar agama. Namun, perang tersebut tidak perlu terjadi jika perbedaan dapat diterima sebagai sebuah keragaman dalam hidup. Film ini menawarkan cinta sebagai solusi dari perbedaan-perbedaan yang ada. Hal ini terlihat ketika sang sutradara sesekali menyisipkan testimony dari pasangan beda agama yang bisa hidup akur atas nama cinta.

Pertanyaan yang dilempar oleh sutradara tentang, “Mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda jika Ia hanya ingin disembah dengan satu cara?” Membuat film ini semakin menangguhkan cinta sebagai solusi karena dengan cinta, yang berbeda bisa menjadi satu.

Pelajaran yang dapat dipetik dari film ini adalah, Tuhan menciptakan kehidupan dengan berbagai macam perbedaan dan juga persamaan sebagai “bumbu” dalam kehidupan tersebut. Jika dalam sebuah perbedaan ada yang merasa lebih baik atau superior dari yang lain, itulah awal mula dari sebuah pertikaian. Namun, jika perbedaan dapat disikapi secara baik dengan cinta dan toleransi, hidup ini akan lebih indah untuk dijalani.

Wallahu a’lam.